Minggu, 06 Maret 2011

Jika Cinta Sudah Direkayasa

Cinta.... kini sudah direkayasa, diotak-atik semanis madu (hei tapi berbisa)/Cinta... kini sudah jadi dilema, beritanya pun sudah jadi topik utama...”
Sorry sobat, bukannya kita ngajak kalian berdungdat ria nih. Apalagi sampe berjoged niruin sang Ratu Dangdut, Camelia Malik, saat mendendangkan hitsnya bertajuk ‘Rekayasa Cinta’ ini. Nggak kok. Kita cuma tertarik ama judul ama lirik lagunya itu lho. Pas banget ama kejadian sehari-hari di tengah kita yang berkaitan dengan cinta. Itu aja. Ya kalo pun jempol kaki dan tangan agak agak goyang dikit pas denger musik dungdat, itu kan udah dari sononya. Wacks!
Kita emang kudu akui kalo pasaran cinta kini nggak semurni madu yang dijual di peternakan lebah. Udah banyak bumbu-bumbu tambahannya alias rekayasa di sana-sini yang bikin cinta punya rasa bervariasi atau malah kehilangan rasa aslinya. Karena cinta adalah universal, setiap orang ngerasa berhak untuk memilikinya, memberikannya kepada orang lain yang dicintainya; atau memaknainya sesuai persepsi masing-masing. Dengan kata lain, nggak ada hak paten untuk urusan cinta. Betul?
Kalo udah begini, cinta jadi penuh misteri. Dan tentu bikin penasaran para pemburu cinta yang berlomba-lomba pengen ngerasain rasa cinta sejati. Apa semanis gula tebu? Sepahit empedu? Seasin garam batu? Seasem ketek yang bau? Segurih ingusmu (iyacks!! Jijay banget! Sori bro!)? atau justeru kombinasi dari semua rasa itu (hmm...yummy!)? Yang pasti, No body know till he fall in love.... ehm..ehm....
Cinta adalah...
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, cinta secara umum berarti ekspresi rasa suka kepada lawan jenis tanpa terikat oleh aturan adat atau agama. Dalam kamus nggak terlalu besar tapi lumayan tebel berbahasa arab, cinta berarti mahabbah. Ibnu Qayyim menuliskan bahwa sebagian alim ulama menjelaskan kata al-mahabbah berasal dari al-habbath, yang artinya air yang meluap karena hujan yang lebat. Dengan kata lain, istilah al-habbath dapat diartikan sebagai luapan rasa dan gejolak saat dirundung keinginan bertemu dengan sang kekasih. Dalam kamus para seniman, cinta adalah inspirasi untuk sebuah lagu, tema cerita, film, puisi, poem, sajak, pantun, karya tulis, lukisan di atas kanvas, atau solitude.
Dalam kamus Islam, rasa cinta adalah bagian dari fitrah manusia. Firman Allah Swt.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS Ali-Imran [3]: 14)

 
Secara khusus, cinta kepada manusia diibaratkan sifat magnetik yang menghadirkan daya tarik-menarik antar lawan jenis. Yup, seiring bertambahnya usia dan hormon yang mematangkan organ-organ reproduksi kita, rasa cinta mulai mencari tempatnya bermuara. Tanpa disadari, kita merasakan kebahagiaan (happiness), menyenangkan (comfort), kepercayaan (trust), persahabatan (friendship), dan kasih sayang (affection), ketika ada orang yang perhatian lalu menyatakan perasaan cintanya pada kita.

Perasaan ini merupakan perwujudan dari naluri melestarikan jenis (Gharizatun Na’u) yang Allah sematkan dalam diri kita sejak lahir. Sehingga kita termotivasi untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Dari sekadar berteman, jalan bareng, hubungan khusus, hingga mengikat janji setia dalam bingkai pernikahan. Rasa ini juga yang terlihat dalam hubungan kasih sayang orang tua kepada anaknya dalam sebuah keluarga, juga sebaliknya. Semuanya berproses secara alami tanpa rekayasa. Karena memang cinta itu bukan untuk dipaksakan, tapi dirasakan. 

Memburu laba di balik cinta
Di mata para kapitalis alias pemilik modal, cinta merupakan komoditi bisnis. Apalagi menjelang nongolnya hari kasih sayang sedunia yang dikenal dengan Valentine’s Day (VD). Jauh-jauh hari mereka udah banting tulang untuk menggiring opini via media massa agar perhatian masyarakat, khususnya remaja, tersedot untuk merayakan atau menjadikan tanggal 14 Februari sebagai moment spesial.
Otomatis, informasi seputar VD yang digeber media massa perlahan tapi pasti memancing antusias semua pihak untuk ikut hanyut dalam perayaan VD. VD kadung dimaknai sebagai moment untuk bertukar hadiah, memberikan bingkisan; atau merayakannya di tempat-tempat spesial. Walhasil, remaja yang paling keliatan sibuk berburu kado atau hadiah yang romantis bin melankolis untuk diberikan pada pujaan hati. Atau nyusun rencana perayaan yang istimewa di tempat yang istimewa dengan seseorang yang istimewa sambil menyantap makanan istimewa diiringi alunan musik syahdu yang istimewa. Pokoknya serba istimewa lah.

Ini yang bikin girang para pelaku industri. Cinta berhasil mereka rekayasa sehingga bisa menyerap penjualan berbagai produk berlabel cinta yang terpajang memenuhi etalasenya. Ada setangkai bunga mawar merah, putih, dan merah jambu, boneka Teddy Bear memegang bantalan berbentuk hati bertuliskan “I Love You”, atau Pernak-pernik Valentine berupa hadiah sepasang mangkok berukuran kecil. Lihat juga kantong belanjaan yang membengkak menjelang VD. Ada bola coklat, permen coklat, atau sepasang boneka cupid yang menjadi simbol kasih sayang. Pokoknya semua perlengkapan malam valentine udah terabsen dan siap diberikan pada yang terkasih.
Cinta juga menginspirasi para pengusaha hiburan untuk merekayasa realita cinta remaja yang dekat dengan keseharian pemirsa. Eng...ing...eng.... di-launching-lah reality show yang semakin mengokohkan cinta dipuncak tangga permasalahan hidup remaja. Ada Harap-harap Cemas, Katakan Cinta, Playboy Kabel dll. Semua sisi kisah cinta remaja diulik dengan apik bin menarik. Dari mulai pdkt, ungkapan cinta, pacar selingkuh, kasus temen tapi mesra, hingga ngetes kesetiaan pasangan. Komplit bo!
Sobat, kiprah para pengusaha yang menjadikan cinta sebagai bagian dari komoditi bisnis dah hiburan secara tidak langsung mempersempit ruang gerak cinta. Arti cinta tereduksi sebatas rasa suka kepada lawan jenis dalam format hubungan pacaran dan ajang baku syahwat. Akibatnya, cinta mulai dikecengin oleh setan dari segala sisi untuk menjerumuskan manusia. Gaswat tuh!
Antara cinta dan hawa nafsu
Dalam sebuah syair yang dikutip di bukunya Imam Ibnu Qayyim: “Entah pesonanya yang memikat, atau akalku yang sedang tidak di tempat.”
Mungkin ini yang bisa menjelaskan kepada kita kenapa orang sering bilang kalo cinta itu buta. Tak bisa membedakan mana yang baik, buruk, bermanfaat, atau bikin melarat. Semuanya seolah sah-sah saja dilakukan atas nama cinta. Pandangan kebebasan dalam mengekspresikan cinta inilah yang tengah dipopulerkan melalui perayaan VD. Tak sedikit perayaan VD yang berakhir di arena perzinahan yang dianggapnya sebagai ungkapan cinta tertinggi yang pantas diberikan pada pasangannya.
Gitu deh, ketika cinta sangat dimuliakan dan diagung-agungkan, godaan setan menyelinap dalam hati kita. Akibatnya, cinta dan hawa nafsu kian tak ada jarak. Nafsu syahwat telah memperalat cinta untuk berbuat maksiat. Kondisi ini sangat mudah ditemui pada orang pacaran.
Ungkapan cinta di awal hubungan, terutama bagi pria, cuman sebatas lips service untuk menutupi keinginannya menyalurkan hasrat seksual. Nggak ada yang ngejamin kamu atau pacar kamu bisa jaga diri alias tahan godaan ketika lagi asyik berduaan. Apalagi di tengah maraknya kampanye gaul bebas (baca: seks bebas) melalui media massa dan tayangan televisi yang dijajakan oleh para selebriti. Bisa-bisa cinta suci di antara mereka berubah status menjadi cinta birahi. Kata Ibnu Qayyim,...bila keduanya telah merasakan kelezatan dan cita rasa cinta, tidak boleh tidak akan timbul keinginan lain yang tidak diperoleh sebelumnya.” Waduh, hati-hati tuh!
‘Merekayasa’ cinta kita
Sobat, kalo kita ngomongin soal cinta, nggak harus langsung nyetel kepada urusan cowok-cewek yang saling jatuh cinta lho. Itu terlalu sederhana. Karena cinta itu begitu luas seperti yang udah kita paparkan diawal pembahasan. Biar kita nggak terjebak dalam jeratan hawa nafsu dan pemujaan terhadap cinta, ada baiknya kita tempatkan cinta kepada manusia sebagai bagian dari kecintaan kita kepada Allah swt. Firman Allah swt yang artinya: Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah saw), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ali-Imran [3]: 31)
Dari Anas r.a. ia berkata, telah bersabda Rasulullah saw: “Tidak beriman seorang hamba hingga aku lebih dicintai daripada keluarganya, hartanya, dan seluruh manusia yang lainnya.” (Mutafaq alaih)
Nah sobat, sekarang udah jelas dong kalo kita wajib mendahulukan cinta kita kepada Allah dan RasulNya tanpa harus kehilangan rasa cinta kepada yang lain. Karena Rasul juga mencontohkan kepada kita cara mengekspresikan cinta kepada orang tua, keluarga, saudara seakidah, lawan jenis, atau harta dan  kekayaan. Sehingga cinta kita akan tetap terjaga dari godaan syetan dan mendapat berkah dariNya.
Dan kita boleh saja merekayasa cinta agar kita bisa lebih mencintai Allah Swt., RasulNya, Islam, dakwahnya, dan umatnya ini. Caranya, tumbuhkan kecintaan itu dengan berupaya mengenal Islam lebih dalam dengan membaca buku-buku Islam atau hadir dalam forum-forum pengajian. Sehingga kita bisa mengevaluasi diri sendiri dan amal perbuatan yang udah kita kerjain. Dengan begitu kita bisa memahami arti hidup di dunia ini untuk meraih ridhoNya. Simak juga kisah-kisah para shahabat yang rela mengorbankan harta, kekayaan, perniagaan, hingga keluarga demi untuk mendapatkan cintaNya. 
Untuk urusan cinta kepada lawan jenis, kita bisa renungkan sepenggal catatan dari seorang teman berikut:”Ya Rabb, ketika aku jatuh cinta, ijinkan ia datang pada waktu yang tepat dimana cinta itu akan membuatku selalu mengingatMu, dan bukan melupakanMu. Ketika aku jatuh cinta, cintakan hamba pada seseorang yang senantiasa mencintaiMu, dan bisa membuatku semakin mencintaiMu. Ketika aku jatuh cinta, jagalah hati hamba, agar cinta itu tidak berbalik menjadi mata pisau tajam yang siap memporak-porandakan cintaku kepadaMu” (‘Ngomong Dong!, Sobat Muda 16/Tahun II/Februari 2006). So, mari kita rekayasa cinta untuk mendapat cinta dari Sang Pemilik Cinta. Yuk? Tunggu apalagi ?

Selasa, 22 Februari 2011

Sebab utama laki-laki di tarik ke neraka oleh wanita

"Di akhirat nanti ada 4 golongan lelaki yg akan ditarik masuk ke neraka oleh wanita. Lelaki itu adalah mereka yg tidak memberikan hak kepada wanita dan tidak menjaga amanah itu. Mereka ialah:

1. Ayahnya
Apabila seseorang yg bergelar ayah tidak mempedulikan anak2 perempuannya didunia. Dia tidak memberikan segala keperluan agama seperti mengajar solat, mengaji dan sebagainya Dia membiarkan anak2 perempuannya tidak menutup aurat. Tidak cukup kalau dgn hanya memberi kemewahan dunia saja. Maka dia akan ditarik ke neraka oleh anaknya.
(“Duhai lelaki yg bergelar ayah, bagaimanakah hal keadaan anak perempuanmu sekarang? Adakah kau mengajarnya bersolat, menutup aurat?, pengetahuan agama?. Jika tidak cukup salah satunya, maka bersedialah utk menjadi bahan bakar neraka jahannam”)


2. Suaminya
Apabila sang suami tidak mempedulikan tindak tanduk isterinya. Bergaul! bebas di pejabat, memperhiaskan diri bukan utk suami tapi utk pandangan kaum lelaki yg bukan mahram. Apabila suami mendiam diri walaupun seorang yg alim dimana solatnya tidak pernah bertangguh, maka dia akan turut ditarik oleh isterinya bersama-sama ke dlm neraka.

(“Duhai lelaki yg bergelar suami, bagaimanakah hal keadaan isteri tercintamu sekarang?. Dimanakah dia?
Bagaimana akhlaknya? Jika tidak kau menjaganya mengikut ketetapan syari'at, maka terimalah hakikat yg kau akan sehidup semati bersamanya di 'taman' neraka sana.”)

3. Abang-abangnya
Apabila ayahnya sudah tiada, tanggungjawab menjaga maruah wanita jatuh ke bahu abang-abangnya dan saudara lelakinya. Jikalau mereka hanya mementingkan keluarganya saja dan adiknya dibiar melencong dari ajaran Islam, tunggulah tarikan adiknya di akhirat
kelak.
(“Duhai lelaki yg mempunyai adik perempuan, jgn hanya menjaga amalmu, dan jgn ingat kau terlepas...
kau juga akan dipertanggungjawabkan diakhirat kelak...jika membiarkan adikmu bergelumang dengan maksiat dan tidak menutup aurat.”)

4. Anak2 lelakinya
Apabila seorang anak tidak menasihati seorang ibu perihal kelakuan yg haram disisi Islam. bila ibu membuat kemungkaran mengumpat, memfitnah dan sebagainya, maka anak itu akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak....dan nantikan tarikan ibunya ke neraka.
(“Duhai anak2 lelaki, sayangilah ibumu. nasihatilah dia jika tersalah atau terlupa.... krn ibu juga insan biasa tak lepas dr melakukan dosa...
selamatkanlah dia dr menjadi 'kayu api' neraka....jika tidak, kau juga akan ditarik menjadi penemannya.)
Lihatlah.....betapa hebatnya tarikan wanita bukan saja di dunia malah diakhirat pun tarikannya begitu hebat. Maka kaum lelaki yg bergelar ayah/suami/abang atau anak harus memainkan peranan mereka.


Firman Allah S.W.T;
"Hai anak Adam, peliharalah diri kamu serta keluargamu dari api neraka dimana bahan bakarnya ialah manusia, jin dan batu-batu...."

Wanita Dicipta Untuk Dilindungi

Allah SWT tidak menciptakan wanita dari kepala laki-laki untuk dijadikan atasannya. Tidak juga Allah SWT ciptakan wanita dari kaki laki-laki untuk dijadikan bawahannya. Tetapi Allah menciptakan wanita dari tulang rusuk laki-laki, dekat dengan lenganya untuk dilindunginya, dan dekat dengan hatinya untuk dicintainya. 

Allah tidak menciptakan wanita sebagai komplementer atau sebagai barang substitusi apalagi sekedar objek buat laki-laki. Tetapi Allah menciptakan wanita sebagai teman yang mendampingi hidup Adam tatkala kesepian di surga. Juga Allah ciptakan wanita sebagai pasangan hidup laki-laki yang akan menyempurnakan hidupnya sekaligus sebab lahirnya generasi, disamping tunduk dan beribadah kepada Allah tentunya. 



Tetapi mengapa tetap saja ada laki-laki yang tunduk di bawah kaki wanita. Mengemis cintanya, berharap kasih sayangnya dengan menggadaikan kepemimpinan, bahkan kehormatan dan harga dirinya.
Wanita dipuja bagai dewa, disanjung bagai Dewi Shinta, yang banyak menyebabkan laki-laki buta mata, buta telingga, bahkan buta mata hatinya. Namun ada juga yang menganggap rendah wanita. Wanita dinista, dihina. Kesuciannya dijadikan objek yang tidak bernilai harganya. Tenaganya dieksploitasi bagaikan kuda. Kelembutannya dijadikan transaksi murahan yang tak seimbang valuenya. 

Wanita dijadikan sekedar pemuas nafsu belaka, bila habis madunya, dengan seenaknya di buang ke keranjang sampah, atau dianggap sandal jepit yang tak berguna.
Jika wanita itu adalah ibu kita, kakak atau adik perempuan kita, dan anak kita, relakah kita melihat mereka menjajakan diri di gelapnya malam yang mencekam. Relakah kita melihat mereka membanting tulang mengumpulkan uang dengan mayat terbujur kaku sebagai resikonya ? 

Jika wanita itu adalah ibu kita, kakak atau adik perempuan kita, dan anak kita, relakah kita membiarkannya seperti seonggok jasad hidup yang tidak memiliki nilai guna ? 

Jika wanita itu adalah ibu kita, kakak atau adik perempuan kita, dan anak kita, relakah kita membiarkannya beringas, liar, ganas, tidak berpendidikan, bodoh, dungu, hanya karena ketidakmampuan ayah memberi nafkah, karena ketidakmampuan kita medidik dan mencintainya, karena ketidakmampuan kita melindunginya, sebagaimana Allah menciptakan wanita dari tulang rusuk laki-laki, dekat dengan lengannya untuk dilindunginya, dekat dengan hatinya untuk dicintainnya. 

Ia tetap wanita, yang diciptakan Allah SWT dengan segala kelebihan dan kekuranganya. Tidak bisa manusia dengan akalnya yang kerdil ini mengganti kedudukannya apa lagi fitrahnya.
Ia bagaikan sekuntum bunga terpelihara, tidak semua kumbang bisa menghisap madunya. Lemah lembutlah dalam memperlakukannya, karena kalau tidak, ia bisa seganas srigala.

Sabtu, 19 Februari 2011

JOMBLO VS PACARAN

Jomblo, Satu kosakata yang sangat ditakuti oleh banyak orang saat ini terutama remaja. Why? Karena kosakata ini mengandung makna negatif yang bikin alergi. Suatu pertanda tidak lakunya seseorang untuk mendapatkan teman kencan dari lawan jenis. Idih nggak laku? Emangnya jualan kolor?
Tapi asli kok, banyak banget remaja apalagi kalangan cewek yang merasa seperti kena kutukan kalo sampe predikat jomblo mereka sandang. Akhirnya dengan berbagai macam cara mereka berusaha untuk melepaskan kutukan ini meskipun dengan berbagai cara. Sudah nonton film 30 Hari Mencari Cinta? Di film itu kan menceritakan tiga orang remaja cewek yang sama-sama berada pada kondisi jomblo. Mereka membuat kesepakatan untuk mencari pacar dalam waktu 30 hari. Bagi yang menang, maka ia akan menjadi raja dan diperlakukan bak putri karena semua pekerjaan rumah akan dikerjakan oleh yang kalah.
Singkat cerita, mereka bertiga benar-benar fokus untuk mendapatkan pacar dalam rentang waktu itu. Karena ngebetnya, sampai-sampai harga diri pun sempat akan tergadaikan ketika sang pacar menginginkan making love alias berhubungan seksual layaknya suami-istri. Belum lagi ngebetnya salah satu tokoh di sana pingin merasakan nikmatnya ciuman bibir sampai melatih diri dengan guling. Naudzhubillah.
Belum lagi resiko bubarnya persahabatan yang mereka bina selama ini hanya karena cemburu dan khawatir pacarnya diembat sahabat sendiri. Meskipun ending-nya semua pacar-pacar karbitan itu pada bubar, tapi kita bisa melihat seberapa parah kondisi remaja kita saat ini terutama dalam pergaulannya.
So, ternyata predikat jomblo begitu menakutkan buat sebagian remaja yang miskin iman. Mereka lebih memilih jalan maksiat dengan pacaran daripada menyandang status ini. Meskipun seringkali dalam pacaran mereka juga merasa terpaksa. Bisa karena dipaksa teman, bisa karena dipaksa ortu, bisa juga dipaksa diri sendiri karena konsep diri yang salah. Jadi emang bisa banyak alasan.
Dipaksa teman terjadi bila teman satu genk pada punya cowok semua. Trus ada satu yang nganggur. Jadilah ada pemaksaan beramai-ramai supaya yang satu ini segera dapat gebetan. Udah deh, siapa aja boleh asal berstatus cowok. Waduh, gawat juga kan. Bisa-bisa sapi dipakein celana bisa diembat juga tuh saking nafsunya (hehehe)
Ortu bisa jadi mengambil peranan dalam ajang kemaksiatan ini. Ada loh beberapa tipe ortu yang kelimpungan ketika anak gadisnya belum punya pacar. Padahal anaknya sendiri udah nyadar bahwa ini adalah ajang berlumur dosa. Eh, ortunya ngotot agar sih anak   nyari pacar. Tulalit banget kan?
Atau bisa juga konsep diri remaja yang salah. Ia merasa merana tanpa punya pacar. Ia merasa jelek dan nggak laku ketika belum pernah merasakan rasanya pacaran. Ia akan jauh lebih bahagia bila ada cowok di sampingnya. Nah, ini adalah konsep yang salah dan menyesatkan.
Belum lagi dorongan media baik TV, radio ataupun majalah yang menawarkan gaya hidup bebas dengan label pacaran yang semakin gencar dilakukan. Udah deh, itu semua adalah banyak faktor yang bikin remaja ngebet untuk bisa pacaran. Padahal, apa sih yang didapat oleh pacaran, adalah perbuatan yang bisa kamu putuskan dengan sadar. Jadi, tulisan kali ini akan membantu kamu untuk membuat keputusan benar dalam hidup. Jangan sampai kamu melakukan perbuatan yang salah dan membuatmu menyesal kemudian. Lanjut!
Kenapa harus pacaran?
Hayobisa nggak kamu jawab pertanyaan ini? Kenapa harus pacaran? Hmm,,,, mungkin di antara kamu ada yang menjawab:
biar nggak kuper
biar nggak dibilang nggak laku
biar ada cowok yang sayang sama kita
biar ada semangat untuk belajar
biar nggak malu dengan teman-teman yang pada punya pacar juga
sekedar pingin tahu rasanya dll
masih banyak lagi alasan yang bisa kamu ajukan sebagai pembenaran. Oke deh, kita coba telaah satu per satu yah, masuk akal nggak sih alasan-alasan yang kamu punya itu.
Pacaran, adalah aktivitas yang dilakukan berdua dengan sang kekasih sebelum menikah. Aktivitas atau kegiatan ini bisa bermacam-macam bentuknya. Bisa nonton bareng, makan bakso berdua, jalan berdua atau belajar bersama. Tapi alasan terakhir ini kayaknya banyak nggak jadi belajarnya deh karena pada sibuk mantengin gebetan masing-masing. Iya apa iya?
Kalo kamu sekedar takut dibilang kuper karena nggak mau pacaran, maka mereka para aktivis pacaran itulah yang sebenarnya orang paling kuper sedunia. Why? Karena saya yakin orang pacaran itu dunianya akan berkutat dari pengetahuan tentang doi aja.
Sebaliknya, pacaran adalah adalah ajang maksiat. Bukankah sudah dikatakan oleh Rasulullah sawBarangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka  adalah setan (HR Ahmad)
Waduh, emang kamu mau jadi temannya setan? Hiii, naudzubillah banget tuh. Jangan beralasan kamu kuat iman, maka tetep aja ngeyel berdua-duaan. Banyak tuh kasus ngakunya aktivis rohis dan niatnya dakwah eh..malah kebablasan pacaran. Teman SMA saya dulu aja ada yang MBA alias Married By Accident alias lagi hamil di luar nikah karena pacaran. Udah sekolahnya nggak bisa lanjut karena perutnya semakin gendut, ia adalah pihak yang dirugikan. Tuh, si laki-laki yang menghamili bisa dengan enaknya melanjutkan sekolah sampe tuntas. Belum lagi beban dosa besar yang harus ia tanggung. Ingat, berzina adalah salah satu dosa besar yang hanya bisa ditebus dengan taubatan nasuha. Taubat yang sungguh-sungguh dan tak akan pernah mengulangi lagi. Bukan taubat jenis tomat, saat ini tobat, besok kumat. Duh, itu sih namanya main-main alias nggak serius dan mau berubah total. Nggak baik, Non!
Jomblo adalah pilihan
Kok bisa? Di saat teman-teman pada risih dengan status jomblo, masa sih malah bisa dijadikan status pilihan? Bisa aja, why not gitu loh? Lagian tergantung persepsi kan?
Kondisi jomblo adalah kondisi yang independen, mandiri. Di saat teman-teman cewek lain serasa nggak bisa hidup tanpa gebetan, kamu merasa sebaliknya. Nggak harus jadi cewek tuh aleman, manja, tergantung ke cowok, dan merasa lemah. Jadi cewek kudu punya pendirian, nggak asal ikut-ikutan. Meskipun teman satu sekolah memilih pacaran sebagai jalan hidup, kamu tetap keukeuh dengan prinsip : jomblo tapi sholihah. Huhuy !
Dulu, waktu saya masih duduk manis di bangku SMP dan SMA, ada seorang teman yang ngebet banget pingin punya pacar. Sampe-sampe kalo ada kuis di majalah remaja tentang siap-enggaknya pacaran, doi termasuk yang rajin mengisi untuk tahu jawabannya. Ternyata doi tipe yang sudah siap banget. Akhirnya fokus perhatian dia hanya ke cita-cita pingin punya pacar dan pacar mulu. Prestasi sekolah jadi anjlok. Padahal ternyata nggak ada yang mau sama doi (backsound : Kacian banget!).
Nah, beda kasus dengan muslimah sholihah. Ada atau nggak ada yang mau, dia nggak bakal ambil pusing. Mikirin rumus fisika aja sudah cukup pusing, pake mikir hal lain. Maksudnya, mikirin pacar atau pacaran adalah sesuatu yang nggak penting bagi dirinya. Selain ngabisin waktu dan energi, yang pasti menguras konsentrasi dan emosi.
Kalo kamu jadi cewek sudah oke, baik di otaknya, kepribadiannya apalagi akhlaknya, jadi jomblo bukan sesuatu yang terpaksa tuh. Malah jomblo adalah sebuah kebanggaan. Kamu bisa tunjukkan kalo jomblo adalah harga diri. Menjadi jomblo bukan karena nggak ada yang mau, tapi kitanya yang emang nggak mau kok sama cowok-cowok anak kecil itu. Lho, kok?
Iya, cowok kalo beraninya cuma pacaran itu namanya masih cowok kecil. Masa masih kecil udah pacaran. Huh! Kalo cowok yang udah dewasa, pasti ia nggak berani pacaran, tapi langsung datang ke ortu si cewek dan ngelamar. Merit deh jadinya. Selain menunjukkan tanggung jawab, cowok dewasa tahu kalo pacaran cuma ajang tipu-tipu dan aktivitas berlumur dosa.
     
Jomblo tapi sholihah
Jangan pernah takut diolok teman sebagai jomblo. Jangan pernah malu disebut nggak laku. Toh, mereka yang berpacaran saat ini belum tentu juga jadi nikah nantinya. Tul nggak? Malah yang banyak adalah putus di tengah jalan, patah hati terus bunuh diri. Hiii, naudzubillah. Atau bisa jadi karena takut dibilang jomblo malah dapat predikat MBA tanpa harus kuliah alias Married By Accident.
Lagipula, cewek kalo mau dipacarin kesannya adalah cewek gampangan. Gampang aja dibohongin, gampang diboncengin, gampang dijamah, dan gampang-gampang yang lain. Idih nggak asyik banget! Toh, nantinya para cowok itu juga bakal males sama cewek beginian karena udah tahu dalemannya, mereka pinginnya dapat cewek baik-baik.
Terlepas apa motivasi mereka, yang pasti kamu kudu punya patokan atau standar tersendiri. Kamu nggak mau pacaran karena itu dosa. Kamu memilih jomblo karena itu berpahala dan jauh dari maksiat. Kamu nggak bakal ikut-ikutan pacaran karena takut dibilang jomblo dan nggak gaul. Kamu tetap keukeuh pada pendirian karena muslimah itu orang yang punya prinsip. Itu artinya, kamu selalu punya harga diri atas prinsip yang kamu pegang teguh. Iya nggak seh?  
Karena banyak juga mereka yang meskipun sudah menutup aurat dengan kerudung gaul, masih enggan disebut jomblo. Jadilah mereka terlibat affair bernama pacaran sekadar untuk gaya-gayaan. Bener-benar nggak ada bedanya dengan mereka yang nggak pake kerudung. Malah parahnya, masyarakat akan antipati sama muslimah tipe ini. Berkerudung tapi pacaran. Berkerudung tapi masih suka boncengan sama cowok non mahrom. Berkerudung tapi sering berduaan sama cowok dan runtang-runtung nggak jelas juntrungannya. Padahal, kelakuannya yang model begitu itu bisa membuat jelek citra kerudung, imej Islam jadi rusak, dan tentunya doi bikin peluang orang lain untuk menilai dan memukul rata bahwa doi mewakili muslimah. Parah banget!
Intinya, predikat jomblo jauh lebih mulia kalo kamu menghindari pacaran karena takut dosa. Menjadi jomblo jauh lebih bermartabat kalo itu diniatkan menjauhi maksiat. Menjadi jomblo sama dengan sholihah kalo itu diniatkan karena Allah semata. Bukankah hidup ini cuma sementara saja? Jadi rugi banget kalo hidup sekali dan itu nggak dibikin berarti. Jadi kalo ada yang rese dengan kamu karena status jomblomu, katakan saja jomblo tapi sholihah, so what gitu loh!. Hidup jomblo!